AL-INSAN AL-KAMIL

  

Insan kamil merupakan konsep manusia paripurna atau sempurna, konsepsi ini muncul dari kalangan sufi yang bercorak tasawuf filosofis. Insan kamil juga diartikan sebagai manusia yang sehat juga dari segi rohani sehingga dapat berfungsi secara optimal, dapat berhubungan dengan Allah dan juga manusia secara benar menurut akhlak islam. Munculnya insan kamil dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, melalui tahap tajalli Tuhan pada alam sampai muncul insan kamil. Kedua, melalui maqamat yaitu peringkat kerohanian di capai oleh seseorang sampai pada kesadaran tertinggi yang terdapat pada insan kamil. Dalam pandangan Ibn Arabi ada dua bentuk yaitu tajalli zati yang berbentuk penciptaan potensi dan juga ada tajalli syuhudi (penampakan diri secara nyata) yang mengambil bentuk pertama, secara intrinsik hanya terjadi di dalam esensi Tuhan tersendiri. Wujudnya tidak berbeda dengan esensi Tuhan itu sendiri karena tidak lebih dari sebuah proses ilmu Tuhan dalam esesinya sendiri. Sementara itu tajalli dalam bentuk yang lain merupakan esensi mengambil bentuk aktual dari beragam fenomena alam semesta. Tajalli zati ada dua martabat yaitu martabat Ahadiyah dan kedua merupakan martabat wahidiyah. Martabat ahadiyah diartikan sebagai Tuhan yang merupakan wujud tunggal dan mutlak, dalam wujud ini masih terlepas dari segala kualitas dan pluralitas apapun dan betul-betul transenden dengan segalanya, dalam transendensi-Nya ini Tuhan ingin dikenal sebagai dirinya yang lain maka diciptakanlah makluk, dari sini martabat ahadiyah akan berlanjut pada martabat yang lain sampai Tuhan dikenal makhluk. Dalam martabat wahidiyah Tuhan menunjukan dirinya yang unik diluar batas ruang dan waktu dan sifatnya terdapat dalam asma Tuhan, sifat inilah yang merupakan kesatuan dengan hakikat alam yang berupa entitas. Sementara itu, Maqomat merupakan tahap perjalanan yang dilalui melalui perjuangan spiritual yang panjang untuk melawan hawa nafsu dan ego yang diyakini sebagai penghalang agar dekat menuju Tuhan.

Penyempurnaan diri manusia dilakukan melalui sebuah proses untuk mencapai kesempurnaan yang hakiki, ada manusia yang sempurna namun terbatas seperti halnya para nabi, fungsi dari manusia sempurna adalah sebagai realitas penyambung antara realitas mutlak dengan yang terbatas,    manusia untuk sampai kepada derajat yang hakiki harus melalui proses yang panjang agar kemudian dapat membimbing manusia lainnya. Jika manusia hanya diam tak melakukan pilihan apa-apa apalagi hanya berlaku taqlid, maka ia tidak akan meraih kesempurnaan. Sekalipun melakukannya ia berada dalam jalur yang benar, keterpaksaan adalah suatu hal yang keliru. Karena manusia mesti dan wajib mendasarkan arah kehidupan menuju kesempurnaannya melalui kehendak bebasnya, jelaslah bahwa pemahaman yang sempurna atas eksisten tertentu tidak akan berhasil tanpa mengenali kausa-kausa eksistensialnya, manusia harus mengetahui tujuan mendasarnya dengan cara mengenali apa yang ada dalam dirinya sendiri yang membawanya pada perasaan dekat dan menyatu dengan Tuhan dalam arti kembali ke asal.

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Manusia