Dalam
diri manusia terdapat dorongan atau keinginan baik jasmani atau rohani dan
munculah harapan untuk memenuhi kriteria atau sesuatu yang dibutuhkan oleh
manusia. Manusia kemudian mencoba kreasi dalam dirinya untuk menarik perhatian
manusia lainnya, dorongan lain adalah dorongan untuk mendapatkan kenikmatan dan
hal-hal yang lebih dalam seperti psikologis dan biologisnya itu muncul karena
dorongan fisiknya. Ada nilai lain juga seperti penderitaan yang dialami dalam
masalah ekonomi kemudian manusia itu melakukan kerja keras untuk keluar dari
zona penderitaan agar mendapat kesenangan. Rasa keinginan untuk memiliki dalam
diri manusia membuat mereka merasa lebih baik, dalam konteks ini menunjukan
bahwa rasa memiliki material ataupun non material, semakin banyak kepemilikan
terwujud maka manusia akan berusaha memiliki hal lain lagi. Kekuasaan yang ada
dalam diri manusia juga membuat manusia membuat manusia lain melakukan
keinginannya dengan lebih leluasa. Upaya yang dilakukan ini terkadang dilakukan
oleh manusia menjadi sesuatu yang tidak dapat tergambarkan sebelumnya,
keinginan adalah fitrah manusia untuk mencapai kesempurnaan, para filosof
mengatakan bahwa “keadaan yang tidak terbatas” hal ini membuat kesempurnaan
yang tidak terbatas. Dorongan-orongan yang mewujudkan keinginan manusia itu
membuat manusia menuju tujuan jalan kesempurnaan yang mutlak.
Kebahagian
terbagi menjadi dua, yaitu kebahagiaan kesempurnaan yang sifatnya mutlak, dan
kesempurnaan yang relatif, perbedaannya adalah kesempurnaan mutlak adalah
kesenangan yang ada pada dirinya dan tidak terbatas, dan kesempurnaan relatif
adalah terbatas baik ruang dan waktu. Semakin terbatas kesempurnaan itu maka
semakin cepat nilai kesempurnaannya hilang, pada tingkat kualitas wujud yang
terbatas adalah kesempurnaan yang rendah atau lemah begitupun sebaliknya.
Ketika manusia merubah keinginannya dari materi ke non material maka manusia
akan mendapat nilai lain, segala kesempurnaan yang non material maka
menyebabkan manusia mengembangkan kesempurnaan lebih dari sebelumnya, pemaknaan
manusia kepada sesuatu yang bersifat non materi maka kesempurnaan itu hanya sampai
disitu. Kesempurnaan yang mutlak adalah realitas yang mutlak atau nyata, proses
manusia menuju pendekatan ini merupakan wujud manusia menuju proses
penyempurnaan yang murni non material.
Comments
Post a Comment