Manusia Dalam Pandangan Tasawuf
Tasawuf
merupakan satu dimensi esoteris dalam islam yang memiliki banyak sejarah. Dalam
islam ada ajaran eksoteris yang terkait dengan keyakinan, hukum, dan sebagainya, sementara itu ada esoteris
lebih ke bagaimana penyikapan terhadap realitas terutama tentang hakikat
ketuhanan. dalam tasawuf ada pembicaraan tentang hakikat manusia, bahwa manusia
merupakan ciptaan yang merepresentasikan tajjali ilahi yang paling sempurna
dalam wujud manuisa (proses penyikapan diri Tuhan sehingga Tuhan bisa
dikenali), segala sesuatu dalam pandangan dimensi ini adalah penyikapan dari
diri Tuhan karena ialah wujud yang hakiki, alam yang ada di semesta ini
merupakan perwujudan diri Tuhan, realitas yang menghasilkan beragam manifestasi
karena berawal dari beragam nama-nama Tuhan, seperti halnya dalam asmaul husna
yang memiliki arti-artinya tersendiri. Apapun nama Tuhan yang ditemui dalam
diri Tuhan dapat dilihat dalam diri manusia, seperti halnya ar-rahman ar rahim
dimana sifat ini juga dimiliki oleh manusia dan lain sebagainya. Eksistensi
manusia dalam perspektif tasawuf dimaknai dalam dua hal, pertama eksistensi
manusia dimaknai sebagai keberadaan manusia berhadapan dengan Tuhan yang
merupakan wakil Tuhan di bumi yang diberikan amanah untuk menjaga kemaslahatan
bumi sesuai kehendak Tuhan. Kedua, eksistensi manusia dimaknai sebagai cara
beradanya manusia yang bertolak dari kesadaran diri sebagai wakil Tuhan di
bumi. Agar dapat memahami kehendak Tuhan, manusia berupaya mendekatkan diri
pada Tuhan, kedekatan diri manusia dengan Tuhan merupakan orientasi setiap
aliran tasawuf, semakin dekat manusia dengan Tuhan maka semakin sempurna
dirinya sebagai seorang khalifah dan eksistensinya makin kuat. Konsepsi tasawuf
manusia menurut Ibn Arabi melalui
kacamata transpersonalisme sehingga membutuhkan beberapa landasan pengetahuan
mengenai manusia, hal ini didasari pada pengetahuan tentang manusia secara
metafisika menurut al-qur’an, hadis dan para sufi. Konsep manusia Ibn Arabi
menyebutkan empat tahapan yaitu pengetahuan tentang jiwa, tingkatan-tingkatan
titik tertinggi, tahapan kesadaran kesatuan, terakhir adalah hamba yang
paripurna. Pertama, pengetahuan tentang jiwa menurut Ibn Arabi terbagi menjadi
tiga, yaitu jiwa vegetatif, jiwa hewan dan jiwa rasional, tahapan manusia
sampai ke pengethuan jiwa adalah dengan mencari ilmu yang berkonotasi positif,
tidak ada batasan mengenai pencarian ilmu karena sifat ilmu tidak terbatas
walau pada substansinya ilmu itu terbatas. Kedua, tingkatan pencapaian titik
tertinggi, dalam hal ini lebih ditekankan pada kesungguhan manusia untuk
konsisten pada pencapaian titik tertinggi karena dibutuhkan kesungguhan,
kesabaran dan disertai ilmu. Ketiga, tahapan kesadaran tentang kesatuan yang
merupakan tahapan dimana manusia dengan sadar setelah melalui tahap demi tahap sampai
pada kesadaran dimana segala sesuatu dibalik realitas fenomena terdapat
realitas mutlak artinya manusia tidak pasif dengan tahapan ini karena dengan
kesadaran tentang kesatuan dapat memaksimalkan aktualisasi diri secara prima
kepada dirinya, alam dan Tuhan. Keempat, hamba yang paripurna, merupakan
sebutan kepada manusia yang telah melewati tahap demi tahap kesungguhan dan
konsekuensi tinggi sehingga mampu menstabilkan segala goncangan dalam jiwa,
godaan yang melanda dan keteguhan menjalankan perintah-Nya. Manusia yang telah
melewati perjalanan panjang maka ia akan memeiliki kesadaran dan fleksibilitas
yang tinggi dan memiliki kualitas hidup yang baik. Dampak dari stabilisasi ini
adalah keharmonisan hidup dengan diri-sendiri dan oranglain serta dengan alam
sekitar.
Comments
Post a Comment