PERSAMAAN GENDER
Manusia
termanifestasikan ke dalam dua fisik yaitu laki-laki dan perempuan, dimana
akhirnya manusia hadir untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Kesetaraan gender
dilakukan oleh para perempuan untuk mendapat posisi yang sama dan tidak ada
batasan dengan laki-laki dalam menggapai apa yang ingin diraihnya. Berbagai
pandangan tentang perempuan menyimpulkan bahwa terkadang perempuan dianggap
tidak berharga, perilaku diskriminasi dan ketidakadilan gender membuat adanya
keterbatasan perempuan dalam melakukan aktivitas, dianggap lemah dan hanya
diperbolehkan dalam kegiatan domestik saja seperti rumah tangga, akibatnya
perempuan terkurung dalam ruang dan wawasan yang sempit. Manusia secara jasmani
memang diciptakan berbeda dan kenyataan ini menimbulkan konsekuensi ruhani atau
kepribadian yang berbeda dan tidak hanya itu, juga dalam hal spiritual dan
tanggung jawab yang berbeda antara keduanya. Namun, bagaimanapun perempuan
dengan laki-laki memiliki kebebasan, dimana kebebasan dapat digunakan dengan
sebagaimana mestinya. Pembatasan antara perempuan dalam melakukan apapun yang
ingin dilakukannya.
Dalam
kehidupan bermasyarakat, perempuan sebagai makluk individu belum sepenuhnya
menjalani perannnya, sebagai manusia karena masih banyak keputusan tindakan
wanita dalam mewujudkan tindakan nyata yang masih diwarnai oleh tekanan,
keterpaksaan dan yang lainnya sehingga berakibat pada pengaktualisasian
potensinya. Seperti halnya dalam bidang pendidikan, porsi untuk menjadi kepala
sekolah bagi perempuan masih kecil dibanding laki-laki. Begitupun dalam bisnis
ataupun menjadi karyawan di suatu industri, peran wanita masih sangat kecil.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya tidak membawa masalah
selama hal ini tidak menyangkut ketidakadilan, namun pada kenyataannya
pembedaan ini membawa dampak pada timbulnya diskriminasi.
Sebenarnya
tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, secara potensial daya yang
bekerja dalam diri manusia tidak ada perbedaan apapun, hanya berbeda dalam hal
fisik saja bukan pada tingkat kejiwaannya, fisik ini kemudian yang menjadi pembeda,
perempuan terlihat lembut pembawaannya sementara laki-laki terlihat lebih kuat,
sementara untuk orang yang memiliki kecenderungan misalnya pada laki-laki yang
mengaku harusnya ia menjadi perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki, ada
kecenderungan yang menyimpang karena hormonal perempuannya lebih dominan
daripada hormon laki-laki dan bukan karena nafs/jiwanya. Jiwa manusia adalah
tunggal, jadi tidak ada perbedaan hakikat diri antara perempuan dan laki-laki. Seperti
halnya kebersatuan diantara sepasang laki-laki dan perempuan dalam hubungan
suami istri itu adalah dalam proses penyempurnaan, perempuan menggambarkan
feminimitas sementara laki-laki menggambarkan maskulinitas, konsepsi
ketunggalan bukanlah hubungan persaingan namun penyempurnaan diantara keduanya,
merupakan ketunggalan yang sama untuk mencapai derajat yang paling tinggi.
Konsep reproduksi hanya untuk meneruskan keturunan, sementara dalam konsep
kehidupan yang lebih hakiki tidak banyak hal lagi, tidak lagi terkait batin,
dimana kita melihat semakin tinggi usia dalam diri manusia semakin meninggalkan
daya reproduktif, begitupun dengan material. Pada akhirnya hubungan antara
laki-laki adalah hubungan penyempurnaan satu sama lain, ada perempuan yang
sampai pada derajat laki-laki, ada laki-laki yang sampai pada derajat perempuan
maka hal ini tidak lagi berpijak pada organ reproduksinya, pada dasarnya
manusia itu semuanya sama dan setiap manusia baik laki-laki dan perempuan
memiliki hak keistimewaan dan makhluk yang saling melengkapi.
Comments
Post a Comment