POLA PENCIPTAAN MANUSIA
Ada
dua pola yang terkait dalam penciptaan manusia sebagaimana dalam firman Allah
yang menciptakan Adam sebagai prototype manusia, disisi lain sebagai proses
awal dari proses penciptaan manusia, disisi lain al-qur’an menggambarkan proses
penciptaan manusia seperti dalam surah al-mu’minun ayat 12-14 yang menjelaskan
proses dari berkembangnya manusia mulai dari embrio sampai dengan terbentuknya
menjadi manusia. Al-qur’an menggambarkan penciptaan dalam dua pola, pertama sebagai
penciptaan hakiki manusia, dan kedua proses penciptaan alamiah. Keterikatan
diri manusia yang bersifat material dengan kesadaran ruhaniah tidak dapat
dihilangkan karena unsur hakiki yang merupakan sumber dari seluruh kehidupan
manusia bukan hal yang bersifat material tapi berasal dari hakikat diri manusia
yang memiliki ikatan yang erat. Tuhan menjadikan diri manusia dengan beragam
unsur dan memberikan fasilitas ragawi yang harmoni juga dibekali beragam bagian-bagian
yang ada dalam diri manusia dalam menopang dirinya menjadi manusia, disamping
itu Tuhan juga memberikan element yang mendorong manusia pada nilai
kesempurnaan seperti contohnya ketika manusia mencintai keindahan maka
kecintaan pada keindahan itu adalah fitrah. Fitrah ini membimbing manusia dalam
melakukan hal-hal kebaikan dan mulia, selain dari fitrah, Tuhan menggambarkan
dalam diri manusia ada nafs yaitu substansi yang non material yang bekerja
keseluruhan yang mengelola dan mengendalikan dalam diri manusia, Tuhan membagi
tentang tingkatan dari nafs ini yaitu amarah yang dapat menjerumuskan manusia
kedalam neraka dan orang yang memiliki nafsu ini tidak kenal dengan yang
namanya akhirat, orang yang memiliki nafsu amarah akan mudah putus asa. Kedua,
nafs lawwamah yaitu nafs ini sudah tahu antara perbuatan yang dilarang dan amal
kebajikan. Ketiga, nafs mulhimmah, Orang yang berada pada tingkatan ini apabila
hendak melakukan amal kebajikan terasa berat. Namun dalam keadaan bermujahadah
dia berbuat kebaikan-kebaikan karena ia sudah mulai takut pada kemurkaan Allah
dan pedihnya api Neraka. Keempat, nafs muthmainnah, Orang yang berada dalam
tingkatan ini senantiasa dijauhkan dari rasa cemas dan gelisah atas segala
ketetapan Allah SWT. Kelima, nafs Radhiah, Sifat dari nafsu ini adalah dia
selalu menganggap yang makruh itu haram, dan yang sunnah ia anggap itu
kewajiban. Keenam, nafs Mardhiyah, yang istimewa pada tingkatan ini adalah
Bukan hanya orang pada tingkatan nafsu ini yang sangat mencintai Allah SWT,
tapi Allah SWT juga sangat mencintainya. Ketujuh, nafs Kamilah, tingakatan yang
ketujuh ini adalah tingkatan para Nabi dan Rasul, manusia yang suci dan
sempurna. Ada juga elemen yang lain yaitu pada hati manusia yaitu Al-Khalq yang
dimaknai sebagai unsur yang bersifat non materi, konteks halq dalam diri
manusia yaitu kesadaran dari realitas dalam diri manusia ini muncul dan berasal
dari hakikat yang mulia yang bersifat non material. Ada lagi Tuhan
menggambarkan tentang shadr yaitu kesadaran dalam diri manusia yang
menggambarkan diri manusia menjadi pribadi yang lebih menjaga emosional. Ada
juga akal yang membantu manusia dari ketidaktahuan dalam berpikir menjadi tahu.
Dengan ini kita melihat manusia yang walaupun sebagai makhluk yang kecil namun
memiliki kompleksitas yang baik, dalam hal ini pada hakikatnya membuat manusia
untuk menuju ke tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi dari makhluk yang lain.
Comments
Post a Comment