Proses
kemunculan jiwa pada diri manusia banyak teori yang muncul, seperti halnya
teori yang dikemukakkan oleh Plato bahwa jiwa yang sebelum ada di alam materi
telah berada di alam idea, alam kesempurnaan
karena bersifat non material. Mulasadra berteori bahwa sekiranya teori Plato
diterima oleh filosof muslim, ini berimplikasi pada penerimaan reinkarnasi,
dalam islam reinkarnasi itu sesuatu yang
ditolak, ada teori lain yaitu kebaharuan
jasmani dan keabadian sebagai rohani yaitu dalam keberawalan dalam jiwa sudah
berbarengan dengan materi dasar atau materi pertama materialnya, proses inilah
yang kemudian diawal dikemukakan mulasadra
yaitu gerakan transubstansial membuat proses yang menyebabkan perkembangan di
dua sisi yaitu material ataupun formanya, pada sisi forma berkembang sebagai
nafs sementara materialnya dalam konteks sebagai raga.
Perbedaan
antara malaikat, hewan dengan manusia
dibedakan yaitu malaikat punya akal tapi
tidak memiliki nafsu, binatang hanya memiliki nafsu saja, sementara manusia
memiliki kedua hal itu, konteks jiwa manusia ini Mulasadra menyatakan bahwa
jiwa manusia itu bagaikan lempung yang bercampur adanya jiwa tumbuhan, jiwa
hewan, jiwa malaikat, dan lain-lain, maka disebut sebagai jiwa yang sempurna
yang mengumpulkan seluruh jiwa yang ada, namun raga juga demikian, kumpulan struktur yang
digambarkan dengan tubuh manusia dengan yang ada dari segala elemen yang
membuat dirinya hidup membuat kesempurnaan sebagai manusia.
Daya penggerak
dari diri manusia terbagi menjadi dua yaitu gerakan ketertarikan pada sesuatu
yang membuat diri manusia mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan bergerak ke
arah tersebut, daya penggerak juga di pengaruhi oleh emosional yang membuat
dirinya menolak sesuatu itu. Daya
persepsi dalam diri manusia dari indera eksternal atau internal sehingga ia membuat dirinya bergerak munculah
daya imajinatif menggambarkan sesuatu, menghasilkan konsep terhadap sesuatu, bisa
menghubungkan konsepsi yang satu dengan konsepsi lainnya, munculah nisbah antara objek satu dengan yang lain.
Seperti pemahaman dirinya terhadap keluarganya. Pada tingkat yang lebih tinggi
yaitu daya pikir, daya persepsi ini sudah melakukan proses berpikir juga sudah
dapat mengelompokan atau memisahkan satu dengan yang lain.
Comments
Post a Comment